KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pariwisata mendorong masyarakat atau pelaku usaha untuk membangun rumah wisata nusantara (homestay) dengan arsitektur nusantara. Hal ini dilakukan untuk bisa mengembangkan pariwisata daerah tersebut. Dan untuk bisa memasarkan pariwisata, Kementerian Pariwisata melakukan inisiasi lewat sayembara Homestay Desa Wisata.
Destinasi Indonesia yang indah dan demi meningkatkan daya tarik wisatawan, Kementerian Pariwisata menggagas untuk membangun homestay Desa Wisata dengan arsitektur nusantara. Cara ini untuk menumbuhkan semangat masyarakat untuk mengembangkan pariwisata Indonesia. Dan untuk bisa menarik 20 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2019, dibuatlah program Homestay Desa Wisata.
Program ini menyasar para pelancong yang menggunakan media online atau dikenal digital traveller. Indonesia memiliki lebih dari 17.100 pulau dengan 74.954 desa di Indonesia. Sehingga dengan beragam etnik dan pariwisatanya, hal ini menjadi potensi bisnis yang sayang dilewatkan.
Anneke Prasyanti, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata Kementerian Pariwisata menjelaskan pemilihan pembangunan homestay karena berada di Desa Wisata, waktu pembangunan 6 bulan, dengan arsitektur nusantara dan biaya murah. Sementarz hotel waktu pembangunan selama 5 tahun dan biaya menginap cukup mahal.
“Sehingga rumah wisata nusantara atau pondok wisata dirasa bisa menarik minat masyarakat. Apalagi lokasinya berada di Desa Wisata dan pengunjung bisa berinteraksi dengan masyarakat lokal,” ujar Anneke kepada KONTAN, Rabu (4/10).
Ada dua konsep homestay Desa Wisata yang ditawarkan ke wisatawan. Pertama pondok wisata dimana wisatawan tinggal dengan penghuni dan berinteraksi langsung dengan pemilik.
Kedua, rumah wisata bangunan rumah yang disewakan kepada wisatawan oleh pengelola. Pengelola bisa merupakan seseorang yang dipilih Badan Usaha Milik Desa ataupun Kementerian Desa.
Kementerian Pariwisata pun tidak memberikan ataupun menggelontorkan biaya untuk membangun rumah wisata nusantara. Yang diberikan Kementerian Pariwisata adalah bantuan pemasaran dan pelatihan untuk pemilik rumah berinteraksi dengan wisatawan.
Hingga kini, Kementerian Pariwisata telah menjalin kerjasama dengan mitra pengelola baik swasta ataupun daerah, perguruan tinggi untuk pelatihan bahasa kepada para pemilik homestay, dan Kementerian Pekerjaan Umum.
Bicara soal rumah wisata nusantara atau pondok wisata, Anneke bilang biaya dikeluarkan oleh masing-masing pengelola. Rata-rata menggelontorkan biaya Rp 100 juta sampai Rp 200 juta tergantung material yang digunakan. Seperti rumah bolon di Medan menggunakan kayu, Rumah wisata Jawa Barat menggunakan bambu, Rumah wisata Nusa Tenggara Timur menggunakan batu-batuan.
Ada empat hal yang jadi landasan rumah wisata nusantara. Yaitu konversi, renovasi, revitalisasi dan bangun baru.
“Jadi beberapa rumah wisata nusantara ada yang sudah dibangun namun hanya perlu diperbaiki atau ditambahkan interiornya. Ada juga yang daerahnya punya potensi untuk dibangun homestay,” pungkas Anneke.
Sampai saat ini, sudah ada lebih dari 1000 daerah yang memiliki rumah wisata nusantara. Yaitu di Dieng 20 homestay, Banyuwangi 24 homestay, Malang 35 homestay, Yogyakarta 55 homestay, Bali 27 homestay, Belitung 38 homestay, Mandalika 10 homestay dan Banten 15 homestay.
Selain itu, melalui sayembara dari Kemenpar satu homestay di badan otorita Danau Toba sudah berjalan dan 9 rumah wisata nusantara lain akan dilakukan di 9 daerah Bali Baru. Anneke bilang targetnya tiga tahun lagi akan mendirikan 10.000 unit kamar dan 10 unit kamar homestay tahun 2019.
0 Response to "Kemenpar inisiasi Rumah Wisata Nusantara"
Posting Komentar