Keranjingan meracik kopi

JAKARTA. Meracik dan menyeduh kopi menjadi hobi dan passion Priyantono Rudito, Director of Human Capital Management PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Bahkan tak tanggung-tanggung, suami Kirana Mercy Widowati ini punya sertifikasi barista dari lembaga di Australia sejak enam tahun.

Pria yang akrab disapa Pri ini berkisah, menjadi barista bukan kesengajaan. Awalnya saat Pri menyelesaikan studi doktoralnya di Melbourne, Australia pada 2010, ia sering berkumpul dengan mahasiswa asal Indonesia. Saat kumpul rekan-rekannya banyak membawa berbagai jenis makanan. Dari situlah dia berpikir untuk membawa minuman kopi.

Pria kelahiran Palembang, April 49 tahun silam, ini belajar meracik kopi lewat Youtube dan sumber lain di internet. Lalu dia membeli alat pengolah kopi bekas seharga AU$ 12. “Setelah mencoba, makin asyik. Setelah itu baru ambil sertifikasi barista,” ungkap lulusan Sarjana Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB).

Setelah bersertifikat barista, bapak dua orang anak ini kian keranjingan meracik kopi. Saat ini ia memiliki 4 mesin peracik kopi, mesin grinder atau gilingan kopi, juga mesin brewing untuk meracik espresso. Enggak bikin kedai kopi, Pak? “Mungkin nanti kalau pensiun. Tapi saya punya konsep kedainya sekaligus buat kelas untuk meracik kopi,” tutur Pri yang gemar berbagai ilmu meracik kopi kepada mahasiswa di universitas tempatnya mengajar.

0 Response to "Keranjingan meracik kopi"

Posting Komentar